Participatory Mapping dengan Google Earth

Ditulis pada Tuesday, 29 July 2008
Masuk kategori Google Earth

Siapa yang ga tau Google Earth? Aplikasi ini sangat powerful n bisa ngasih gambaran yang lebih baik tentang planet bumi yang sedang sekarat ini. Oom Google emang inovatif banget, pemain lama di internet kayak Yahoo atawa Microsoft aja ga pernah kepikiran buat menggabungkan foto-foto satelit — istilah kerennya :

mozaik — terus ditampilkan dalam bentuk bola dunia and 3D. Emang sih sekarang Microsoft dah punya Microsoft Virtual Earth, tapi tetep aja idenya muncul setelah Google bikin Google Earth, and makenya juga lebih asik Google Earth kok, sori, tulisan ini bukan buat membangga banggakan Google Earth loo, tapi dari segi kemudahan penggunaan, emang begitulah adanya.. :D

Google Earth juga bukan tanpa kekurangan. Yang paling mengganggu buatku adalah Google mengklaim bahwa citra yang mereka sajikan tidak lebih tua dari 3 tahun. Kenyataannya di daerah timur Bojonegoro ada waduk yang belum selesai, padahal ketika kutanyain sama warga sekitar, tu waduk kelarnya sudah dari tahun 1994, ck ck ck… Itu salah satu contoh kekurangan Google

Bagi pengguna, Google Earth ternyata tidak cuma buat iseng-iseng liat Menara Eifel di Paris, liat Forbidden City di China, atawa menelusuri Grand Canyon. Lebih dari itu, Google Earth bisa digunakan untuk hal-hal lain yang sifatnya lebih serius, bahkan yang bersifat research sekalipun, contohnya penelitian arkeologi yang bisa diliat di sini.

Pengalaman ini juga aku rasain sendiri, soalnya aku pernah make Google Earth buat mengerjakan suatu kegiatan bersama satu INGO di Bojonegoro buat membantu korban banjir di Bojonegoro. Aku menggunakan Google Earth untuk membuat peta-peta tematik di beberapa desa sepanjang sungai Bengawan Solo. Pemetaan yang dilakukan melibatkan masyarakat desa tersebut, n ternyata ada istilah kerennya untuk kegiatan kayak gini : Participatory Mapping :D

Participatory mapping ini melibatkan masyarakat desa untuk interpretasi hal-hal yang aku perlukan melalui citra dari Google Earth. Jadi, sebelum aku n tim meminta warga untuk membantu proses identifikasi lewat citra Google Earth, aku perkenalkan dulu seperti apa seh Google Earth, kutunjukkin pake projector.

Waktu kutunjukin planet bumi terus ku zoom in ampe daerah desa mereka di bojonegoro, mereka berdecak kagum, it’s exactly the same feeling like i was in the first time see satellite image, hehehe. Tapi lebih penting dari itu, kita membuat mereka lebih sadar bahwa betapa rawannya lokasi desa yang berada di sepanjang sungai Bengawan Solo itu, betapa mudahnya kereka terkena bencana terutama banjir. Selama ini mereka sudah aware kalo daerah mereka emang rawan banjir, tapi tidaj se-aware- itu…

Mereka antusias melihat dan mendengar penjelasan tentang Google Earth, jauh di lubuk hati yang paling dalam, mudah-mudahan dengan diperkenalkannya teknologi kayak gini, bakal meningkatkan kesadaran mereka untuk berusaha mensekolahkan anak-anak mereka minimal sampe lulus SMA deh, ato kalo bisa kuliah, biar mereka bisa masuk Geogragi UGM biar ngerti GIS and Google Earth, hihihi

Setelah mereka bisa paham sekilas tentang Google Earth itu, proses Participatoy Mapping pun dimulai, yaitu masyarakt meindentifikasi rumah-rumah mereka berdasarkan image dari Google Earth yang kita cetak. Ternyata warga cepet ngerti juga tuh and relatif ga kesulitan membaca objek-objek di citra, seperti mana rumah, mana mesjid, mana sekolah.

Hasil identifikasi kita olah dengan bantuan ArcGIS, aplikasi spreadsheet, jadi deh peta kerawanan sosial ama peta kerawanan fisik terhadap bencana banjir. Berani ngadu deh kualitas hasilnya,. wong proses nya melibatkan warga yang tingkat ‘local knowledge’nya tinggi kok, hehehe. And kita juga ga lupa buat quality control hasil identifikasi mereka, yaitu dengan cara ngajak sebagian warga jalan-jalan keliling desa n nyocokin hasil interpretasi mereka dengan kondisi sebetulmya di lapangan.

Apa yang kutulis di atas sudah kupersingkat sesingkat singkatnya, karena prosesnya agak lebih complicated lagi. Cuma yang pingin kutonjolkan adalah Google Earh bisa digunakan untuk menunjang pekerjaan. Biarpn freeware alias gratisan, tapi bisa menunjang bahkan dijadika referensi data buat bekerja.

Cuma kelemahan dari kerjaan yang telah kulakuin ini adalah : Ga cocok kalo daerah yang akan dipetakan tidak dicover oleh citra resolusi tinggi alias cuma dicover oleh citra Landsat doang. Atawa juga kalo daerah yang dikerjain luas, ga masalah seh kalo tenaga GIS nya banyak…

Google Earth memang mantapp….:D

Komentar

6 Responses to “Participatory Mapping dengan Google Earth”

  1. dyah 'ember' on August 11th, 2008 12:34 pm

    bagus.. baguuusss..!!! bkn kegiatan sosial mw kagak? Something related to ‘participatory mapping’…Kalo mw ntar sayah hubungkan dengan yang ber’wenang’ hehehe… Sayah punya ide nih..
    Nti sayah kontak via imel japri aja yah…

    selamat berkarya… ;D

  2. admin on August 11th, 2008 12:57 pm

    weks, boleh boleh, kalo prospeknya bagus, why not?

  3. Ujang Dede Lasmana on August 19th, 2008 5:58 pm

    Bagus
    Memang Google earth bisa dimanfaatkan untuk apa saja. apalagi karena participatory-nya itu.
    Saya saja menggunakannya untuk pemetaan risiko bencana yang dilakukan secara partisipatif.

    Keep in touch

  4. herry kusmaiwanto on November 5th, 2008 12:46 pm

    Kebetulan saya juga tertarik membuat Tematik dengan google earth. Saya Herry Kusmaiwanto dari Badan Pusat Statistik Kab Demak, kebetulan mempunyai poligon desa/kecamatan dan kabupaten yang ingin dimuati data dari BPS sendiri.
    Mohon sharingnya dong gimana membuatnya di Google earth.
    Saya Biasa membikin dari MapInfo 8.5

    Thanks
    Herry Kusmaiwanto

  5. admin on November 12th, 2008 8:44 am

    halo mas herry

    untuk participatory mapping dengan google earth, untuk sekarang saya baru bisa menuliskan secara umum seperti yg ada di http://www.oqhadian.org, karena keterbatasan waktu, lain waktu mudah2an saya bisa transfer pengalaman saya ke mas herry dengan lebih detil.

    in the mean time, mas herry bisa akses di http://www.ppgis.net or http://www.iapad.org untuk mendapatkan informasi lebih detail tentang participatory mapping.

    selamat mencoba

  6. wid anto on May 13th, 2009 4:49 pm

    Mas, saya tertarik dengan cerita anda tentang participatory mapping. apakah saya boleh tahu alamat kontak anda? kalau boleh, mohon via japri. salam, widanto

Tinggalkan balasan




healthy food | mobile communication | imaging & digital camera
Copyright © oq hadian 2008
Add to Technorati Favorites
Theme by TonosMovil modified by oq